Aku masuk ke kamar mandi buat membersihkan badanku. Selesai mandi cita rasanya badanku terasa segar. Kemudian duduk kalem menonton TV di ruang tengah sambil minum susu hangat. Aku hanya melilitkan handuk pada badanku, sembari mengeringkan rambutku menggunakan kipas angin. Aku buka channel TV sana-sini. Acaranya nir ada yang menarik hatiku. Iseng-iseng aku menonton film BF koleksi suamiku. Aku pernah protes padanya karena beliau menonton film begituan. Dia hanya tersenyum & berkata bahwa beliau mencari style bercinta untukku. Di film itu laki-laki bule sedang mencumbu seorang wanita asia yg kelihatannya begitu menikmati cumbuan menurut laki-laki bule. Aku sedikit terangsang melihat adegan itu, seandainya suamiku masih ada…. Aku melepaskan handuk yang melilit badanku, kemudian mengelus-elus payudaraku sendiri menggunakan lembut. Payudaraku memang nir begitu akbar, akan tetapi suamiku selalu memujiku menggunakan sebutan montok.
Untuk urusan mengurus badan, aku memang agak telaten. Karena bagiku kecantikan wanita dan kemulusan badan itu merupakan harga mati. Aku tidak menyadari sama sekali jikalau terdapat sepasang mata yang memperhatikan kegiatanku Kuelus-elus butir dadaku dengan lembut sampai terus jelas menyebabkan rangsangan tersendiri bagiku. Libidoku tiba-datang tiba & hasratku jadi memuncak, cita rasanya aku ingin berlama-lama , matakupun tidak terasa mulai sayu merem melek merasakan rangsangan.
Badanku melengkung merasakan kenikmatan, kukangkangkan pahaku semakin lebar. Jari tengah dan telunjuk tangan kiriku kupakai buat menyibak bibir vaginaku sambil menggesek-geseknya. Sementara jari tengah dan telunjuk tangan kananku aktif menggosok-gosok klitorisku. Kualihkan jari tangan kananku ke arah lipatan vaginaku. Ujung jariku menunjuk ke pintu masuk liang kenikmatanku, kusorongkan sedikit masuk ke dalam. Liang vaginaku sudah benar-benar basah sang lendir yg licin sampai menggunakan mudahnya menyeruak masuk ke pada liang vaginaku.
Kini jari tangan kiriku sudah nir perlu lagi menyingkap bibir kemaluanku lagi sampai kualihkan tugasnya buat menggesek-gesek klitorisku. Kukocokkan jari tangan kananku keluar masuk liang vaginaku. Jari-jariku menyentuh & menggesek-gesek dinding vaginaku bagian dalam, ujung-ujung jariku menyentuh G-spot, punggung dan kepalaku jadi tersandar bertenaga pada sofa di ruang tengah, seakan-akan tubuhku melayang-layang dengan kenikmatan tiada tara.
Aku telah benar-banar mencapai puncaknya buat menuju titik puncak ketika ada sesuatu yang rasanya akan meledak keluar berdasarkan pada rahimku, ini indikasi saya akan segera mencapai orgasme. Lelaki itu berpostur tinggi juga & mengimbangi tinggiku, dan usianya yg saya rasa nir jauh beda menggunakan usia suamiku disertai menggunakan otot-otot lengannya yg nampak gempal ketika menahan tubuhku yg terus berontak.
Dia lalu menyeretku menuju ke kamar tidurku. Aku 1/2 dibantingkannya ke ranjang. Dan saya sahih-sahih terbanting. Dia ikat tanganku ke backdrop ranjang itu. Aku meraung, menangis dan berteriak sejadi-jadinya, tapi hanya terdengar gumaman dari mulutku karena beliau membekap mulutku. Hingga akhirnya, sehingga saya menyadari tidak ada gunanya lagi berontak maupun berteriak. Sesudah itu beliau tarik tungkai kakiku mengarah ke dirinya. Dia nampak berusaha menenangkan saya, menggunakan cara menekan mentalku, seakan meniupi telingaku. Dia berbisik dalam desahnya, “Ayolah cantik, jangan lagi memberontak. Percuma khan, jarak antar tempat tinggal pada komplek ini relatif berjauhan. Lagian kalaupun ada yg tahu mereka nir akan berani menggangu”.
Disini dia melakukannya mulai menggunakan lembut & demikian penuh perasaan. Bajingan! Dia pikir mampu menundukkan aku menggunakan caranya yang demikian itu. Aku terus berontak pada geliat.. Namun saya bagaikan mangsa yg siap diterkam. Aku sesenggukan melampiaskan tangisku pada sepi. Tak terdapat bunyi menurut mulutku yang tersumpal. Yang terdapat hanya air mataku yg meleleh deras. Aku memandang ke-langit-langit kamar. Aku merasa sakit atas ketidak adilan yg sedang kulakoni. Kini lelaki itu menatapku. Aku menghindari tatapan matanya. Dia menciumi pipiku dan menjilat air mataku,
“Kamu manis banget….. ” beliau berusaha menenangkanku.
Dia pula menciumi tepian bibirku yg tersumpal. Tangannya meraba pahaku dan mulai meraba-raba kulitku yang sangat halus lantaran tidak pernah kulewatkan merawatnya. Lelaki ini tahu kehalusan kulitku. Dia merabanya dengan pelan & mengelusinya semakin lembut. Betapa saya dilanda perasaan malu yg amat sangat. Hanya suamiku yg melihat auratku selama ini, tiba-tiba terdapat seorang lelaki asing yg demikian saja merabaiku & menyingkap segala kerahasiaanku.
Aku merasakan betisku, pahaku lalu gumpalan bokongku dirambati tangan-tangannya. Pemberontakanku sia-sia. Wajahnya semakin turun mendekat sampai kurasakan nafasnya yang meniupkan angin ke selangkanganku. Lelaki itu mulai menenggelamkan wajahnya ke selangkanganku.
“ Ah…..” Bukan main. Belum pernah ada seorangpun berbuat macam ini padaku. Juga nir begini suamiku selama ini. Aku tidak kuasa menolak seluruh ini. Segala berontakku kandas. Kemudian saya merasakan lidahnya menyapu pori-pori selangkanganku.
Lidah itu sangat pelan menyapu & sangat lembut. Darahku berdesir. Duniaku seakan-akan berputar & aku tergiring dalam tepian samudra yg sangat mungkin akan menelan & menenggelamkan saya. Aku mungkin sedang terseret dalam sebuah arus yang sangat tak mampu kulawan. Aku mencicipi lidah-pengecap lelaki ini seakan sebagai seribu lidah. Seribu lidah lelaki ini menjalari semua bagian-bagian rahasiaku. Seribu pengecap lelaki inilah yg menyeretku ke tepian samudra lalu menyeret saya buat tertelan & tenggelam. Aku tak bisa pungkiri.
Aku sedang jatuh pada lembah nikmat yang sangat dalam.. Aku sedang terseret dan karam dalam samudra nafsu birahiku. Aku sedang tertelan oleh gelombang nikmat syahwatku yg sudah enam bulan tidak terlampiaskan sejak suamiku mangkat . Dan ketika kombinasi lidah yg menjilati selangkanganku & sekali waktu & jari-jari tangannya yg mengelusi paha pada wilayah zenit-puncaknya rahasiaku, saya semakin tidak sanggup menyembunyikan rasa nikmatku.
Isak tangisku terdiam, berganti dengan desahan menurut balik kain yang menyumpal mulutku. Dan saat kombinasi olahan bibir & lidah dipadukan menggunakan bukan lagi sentuhan tetapi remasan dalam kemaluanku, desahanku berganti dengan rintihan yang penuh derita nikmat birahi. Laki-laki itu datang-tiba merenggut sumpal mulutku. Dia begitu yakin bahwa saya telah tertelan pada syahwatku.
Ayolah, sayang.. Mendesahlah.. Merintihlah.. Puaskan aku …..”
Aku mendesah & merintih sangat histeris. Kulepaskan dengan liar derita nikmat yang melandaku. Tetapi kini aku menangis, mengucurkan air mata & berteriak histeris beserta gelinjang syahwatku. Aku meronta menjemput nikmat. Aku menggoyang-goyangkan pinggul & pantatku dalam irama nafsu birahi yang menerjangku. Aku tidak sanggup mengendalikan diriku lagi. Aku bergoncang-goncang mengangkat pantatku buat mendorong dan menjemputi bibirnya lantaran kegatalan yang amat sangat pada kemaluanku dilanda nafsu birahi. Dan kurasakan betapa kecupan dan gigitan lidah lelaki ini membuatku seakan-akan menggigil dan gemetar lupa diri.
Rintihan itu menciptakan lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajahku sampai mampu kuraih bibirnya. Aku rakus menyedotinya. Aku berpagut menggunakan pemerkosaku. Aku melumat mulutnya. Aku sahih-benar dikejar badai birahiku. Aku sahih-benar dilanda gelombang syahwatku. Aku benar -benar nir tabah menunggu beliau melepas pakaiannya. Aku masih berkelojotan diranjang. Dan kini aku sahih-sahih menunggu lelaki itu memasukkan kontolnya ke kemaluanku juga.
Aku sahih-sahih berharap karena telah nir tahan merasakan badai birahiku yang demikian melanda semua organ-organ peka ereksi di tubuhku. Tiba-datang aku merasakan sesuatu yang sama sekali diluar dugaanku. Aku sama sekali tak menganggap, karena memang aku tidak pernah punya dugaan sebelumnya. Kemaluan lelaki ini demikian gedenya. Rasanya ingin tanganku meraihnya, tetapi belum tanggal berdasarkan ikatan dasi pada backdrop ranjang ini. Yang akhirnya kulakukan adalah sedikit mengangkat kepalaku dan berusaha melihat kemaluan itu. Ampuunn.. Sungguh mengerikan. Rasanya ada pisang ambon gede & panjang yang sedang dipaksakan buat menembusi memekku. Aku menjerit tertahan. Tak lagi saya sempat memandangnya.
Lelaki ini telah pribadi menerkam pulang bibirku. Dia sekarang berusaha menjulurkan lidahnya di rongga mulutku sambil menekankan kontolnya untuk menguak bibir vaginaku. Kini saya dihadapkan kenyataan betapa akbar kontol pada gerbang kemaluanku saat ini. Aku sendiri sudah demikian dilanda ereksi & tanpa memalukan lagi mencoba merangsekkan lubang kemaluanku. Cairan-cairan kewanitaanku membantu kontol itu memasuki kemaluanku.
“Blesek……..Blesek………. Ohh…… Kenapa sangat nikmat begini…….. Oh saya sangat merindukan kenikmatan ini…..” Aku semakin meracau.
Sensasi cengkeraman kemaluanku pada bulatan keras batang akbar kontol lelaki ini benar-benar menyuguhkan fantasy terbesar dalam seluruh hidupku selama ini. Aku cita rasanya terlempar melayang kelangit tujuh. Aku meliuk-liukkan tubuhku, menggeliat-liat, meracau dan mendesah & merintih dan mengerang dan.. Aku bergoncang & bergoyang tidak karuan…. Orgasmeku menggunakan cepat menghampiri dan menyambarku. Aku pingsan pada kenikmatan tidak terhingga.. Aku masih kelenger waktu beliau mengangkat galat satu tungkai kakiku buat lalu dengan semakin dalam dan cepat menggenjoti sampai akhirnya muntah dan memuntahkan cairan panas dalam rongga kemaluanku.
“Auh………. AHH…… “ aku menjerit merasakan gelombang-gelombang listrik kenikmatan menjalar pada sekujur tubuhku.
Kami pribadi roboh. Hening sesaat. Aneh, saya tak merasa menyesal, tidak merasa risi, tidak merasa takut. Ada rasa kelapangan dan kelegaan yg sangat longgar. Aku merasakan seakan menerima sesuatu yg sangat saya rindukan selama ini. Apakah saya memang hipersex atau memang karena lelaki ini memang andal dan pintar bercinta. Ah aku nir mau berfikir lagi.. Akupun tertidur kelelahan. Besok pagi aku terbangun dengan badan sedikit pegal-pegal. Tidak ada tanda-pertanda beliau terdapat pada rumah. Dan kuperiksa nir terdapat barang yg hilang. Apakah dia memang tiba buat memperkosaku?…. Kadang-kadang aku masih ingin melakukan hal yang sama. Aku merindukan kontolnya yg sudah membuatku mencapai kenikmatan tertinggi pada bercinta.


0 comments:
Post a Comment