Ngeseks Bareng Tukang Pijit Langganan

Sebagai seorang konsultan saya seringkali pergi keluar kota & menginap di hotel bisa hingga berbulan-bulan lamanya. Seringnya menginap sekamar bersama dengan anggota tim lainnya tetapi kadang pula menginap sendirian. Pekerjaanku yang bersifat projek kentara sering menuntut saat ekstra dan kerja keras sebagai akibatnya membuatku mengalami keletihan baik fisik & mental. Kalau sudah begitu aku  segera mencari tukang pijat buat mengendorkan urat saraf yg sudah amat tegangnya. Minggu ini merupakan zenit-puncaknya pekerjaan sebagai akibatnya keletihan amat sangat terasa. Hal ini menyebabkan aku  malas pulang week end ke kota J pada mana aku  tinggal. Kurencanakan Sabtu pagi besok saja buat pulang memakai kereta api. Lantaran anggota tim lain selalu pulang ke J (semuanya berdomisili di J) di akhir minggu maka kini   tinggal aku  sendirian.
 https://goo.gl/eNkQDB

Setelah makan malam di restoran hotel saya masuk ke kamar sambil nonton program-acara TV. Berhubung hotel ini bukan hotel mewah maka channel acara TV-nya pun terbatas, untuk menghemat ongkos operasional kali. Setelah satu jam saya mulai dihinggapi kejenuhan. Mau tidur masih amat susah lantaran malam begitu larut, baru jam 8an, dan badan yang amat letih ternyata malah menciptakan sulit untuk segera beristirahat tidur. Tiba-datang aku  teringat biasanya hotel terdapat informasi layanan pijat. Kucari-cari brosurnya tidak kutemukan. Tanpa kurang akal kutelpon operator buat menanyakan apakah pada hotel ini mampu dicarikan tukang pijat. Ah lega cita rasanya saat dijawab sanggup & akan segera diantar. Sambil menunggu kedatangan tukang pijat aku  mulai mencoba pulang menikmati acara-program pada layar TV. Tapi ternyata pikiranku sudah mulai melantur membayangkan nikmatnya waktu badan yang pegal hebat ini akan mendapatkan terapi pijat yang pasti akan memanjakan urat dan saraf-saraf yang telah mulai menuntut buat dirilekskan sejak beberapa hari ini. Ah beginilah nikmatnya masih bujangan (sebagai lelaki berusia 35 saya kentara termasuk telat menikah, hehe biarin masih enak sendiri kok), waktu masih bisa diatur sesuka hati. Coba bila berkeluarga sebagaimana kawan-kawanku itu, niscaya mereka wajib  buru-buru pergi sementara masih wajib  berjuang buat mendapatkan tiket kereta lantaran penuhnya calon penumpang pada akhir minggu.
Sejam kemudian terdapat bunyi ketukan pintu, ah telah datang, batinku menggunakan girang. Ketika kubuka aku  relatif sedikit heran lantaran tukang pijatnya mak  -mak   berumur 45-an lebih kira-kira. Tinggi tubuh kurang lebih 155 centimeter, berkulit kuning bersih, paras telah memberitahuakn usianya yg memang telah matang. Dengan mengenakan jaket kain & bercelana jean yg agak ketat. Dengan santunnya beliau permisi buat masuk. Kupersilakan beliau masuk ad interim pengantarnya yang merupakan bell boy lalu pulang meninggalkannya. Setelah pada dalam kamar kupersilakan duduk dulu pada kursi pojok kamar. Aku ijin sementara waktu ke toilet buat pipis karena saya memang termasuk orang yg nggak tahan dingin (sudah di kota yg dingin ber-AC pula) sehingga tak jarang pipis. Daripada nanti pas ditengah-tengah aksi pemijatan aku  kebelet mendingan kukeringkan dulu kantong pipisku. Kan nggak nyaman pas lagi merem-melek dipijat eh kebelet pipis, niscaya akan membuat repot.
Setelah selesai dari toilet kulepas kaos dan celana pendekku sebagai akibatnya tinggal CD saja. Lalu kulihat mak   itu membuka jaketnya sebagai akibatnya hanya menggunakan kaos ketat hitam saja. Wah ternyata si bunda ini masih mengagumkan jua badannya, kelihatan perut masih kencang. Tanpa poly buang ketika pribadi saya tengkurap pada atas ranjang. Ibu tukang pijat mendekat & mengatakan maaf dan mohon ijin untuk mulai pemijatan. Pertama yg dipijat merupakan telapak kaki. Ah nyamannya. Telapak kakiku yg sudah kaku-kaku ditekan-tekan & lalu diurut. Aku tak mau banyak bicara supaya Si Ibu lebih penekanan pada pekerjaannya & saya konsentrasi supaya kenikmatan yang kuraih dari pijatan-pijatan maksimal . Setelah selesai menurut telapak kaki mulailah naik menuju ke betisku yang tak kalah kakunya. Rupanya betis kaku bila dipijat menimbulkan rasa nyeri sebagai akibatnya aku  sedikit meringis. Rupanya Si Ibu tahu kesakitanku lalu sedikit dikurangi tekanannya. Selesai ditekan-tekan lalu diurut-urut. Untuk urut dipakailah cream supaya licin.
Begitu sampai menuju paha datang-datang kudengar suaranya..
“Den, maaf CD-nya dilepas saja biar   nggak kotor kena minyak. Maaf ya.”
Karena logis karena ya kulepas saja meskipun membuatku kikuk (saya tak jarang dipijat tetapi biasanya pria tuna netra). Aku lepas CD-ku menggunakan hanya mengangkat pantat terus kuperosotkan keluar dari kaki. Menurutku Si Ibu nggak dapat melihat “adikku”. Lalu saya mapan lagi agar pijatan dapat diteruskan. Mulanya paha luar yg menerima giliran. Setelah kedua sisi paha luar selesai baru dilanjutkan dengan paha dalam. Dengan mengurut berdasarkan arah bawah menuju atas, stop press!! Bisakah anda bayangkan?
Jari-jarinya, kayaknya bunda jarinya (saya nggak bisa lihat sih) secara halus menyenggol kantong-kantong kejantananku. Serr. Kudiamkan. Kemudian pantatku mulai dijamahnya dengan cara melingkar berdasarkan bawah ke atas luar terus turun masuk ke pada dan berakhir di.. Ujung selangkangan persisnya tengah-tengah antara ke 2 kantong kejantananku. Serr. Serr. Uenak sekali. Aku heran agak lama   jua dia ini bermain pada daerah sensitif ini. Tapi biarlah, enak ini. Hehe. Eh ketika sedang enak-enaknya menikmati jari-jari lihainya yang baru pertama kali kunikmati sensasi kenikmatan tiada tara ini berlangsung datang mulai naik ke arah pinggang. Agak kecewa pula, tapi kutahan biarlah beliau merampungkan pekerjaannya sinkron menggunakan prosedur baku pemijatan yang beliau praktekkan. Begitu selesai menggunakan leher belakang sebagai bagian teratas yang dirambahnya, datang-tiba dengan ‘cool’-nya memerintahkan buat telentang. Wah kacau ini. Bisa ketahuan nih kalau adikku ternyata sudah terjaga. Tapi ya sudahlah biarkan segalanya berlalu menggunakan alamiah. Yang sudah telanjur tegak biarlah begitu. Hehe.
Mulai lagi Si Ibu dari bawah yaitu bagian depan telapak kaki. Mulai waktu ini telah tidak mampu lagi kunikmati pijatan menurut dtk ke dtk dan setiap inchi anggota tubuhku. Aku hanya memikirkan apa yang akan beliau lakukan waktu sudah merembet ke arah paha. Gara-gara pikiranku sudah terpandu oleh kerja hormon testosteronku maka jelas sudah, adikku semakin percaya diri untuk mengeras sebelum sentuhan terjadi. Akhirnya tiba pula waktu-ketika yang kunantikan. Rupanya teknik yang beliau lakukan pada bagian pantatku tersebut dipraktekkan pula pada bagian depan. Aduh Mami, enaknya minta ampun, eh nambah. Sempat kutatap wajahnya, kulihat sekilas-sekilas beliau melirik adikku. Hmm rupanya dia ingin memahami efek pijatannya apakah mengakibatkan output atau tidak. Dan nir galat beliau. Sukses besar . Bahkan si adik telah sedikit menitikkan cairan.
Ketika itu dia mencuri pandang ke aku . Aku menangkapnya. Mulai kuamati wajahnya buat melihat lebih kentara misalnya apa sebenarnya tampang Ibu ini. Biasa aja. Tidak menarik. Bahkan sudah terdapat beberapa kerutan. Sedikit. Tidak terlalu muluslah wajahnya. Tapi nir berpengaruhlah itu karena nyatanya adikku tetap saja berdiri kayak tonggak, sedikit miring karena gravitasi. Lagi asyik-asyiknya melayang-layang imajiku dampak aksi pijatan-pijatan yg berbentuk lingkaran-lingkaran itu tiba-tiba rambahannya telah menuju perut. Ah. Sedikit down. Sedikit kecewa. Tunggu dulu, rupanya saat di perut terdapat asa buat menerima sentuhan-sentuhan dahsyat itu. Ketika gerak maju-mundur pada perut dengan kumpulan melingkar luar-pada pula, ternyata setiap mundur gerakannya dibablaskan sebagai akibatnya si saudara termuda tetap bisa menikmati sentuhan-sentuhan. Bedanya sekarang yang menerima pemberian  adalah bagian ketua adik. Sip. Sip bener ini. Kok ya terdapat tukang pijat sehebat ini. Apakah lantaran telah bunda-ibu maka pengalamannya memijat bertahun-tahun yg membuatnya sebagai piawai begini? Mustinya iya.
https://goo.gl/eNkQDB
Lalu, akhirnya pijatan di akhir bagian dada. Begitu terselesaikan..
“Mau diapain lagi Den?”

“Maksud Ibu?” Tukasku.
Tersenyum simpul beliau &.. Tahu-memahami tangannya pura-pura pijat-pijat lagi di selangkangan tetapi dengan titik kontak ukiran ke ‘saudara termuda’ semakin akbar dan lama  .
“Oh memahami aku  maksudnya”, pikirku.
Tanpa kujawab mulai kuelus punggungnya (beliau duduk pada pinggir ranjang menggunakan membelakangi). Dia diam dan mulai berani hanya mengelus khusus adikku saja, nir lagi pura-pura menyentuh bagian lain. Kusingkap pelan kaosnya. Astaga, rupanya syarat dalamnya terawat mulus. Tak kusangka padahal telah seumur itu. Menggelegaklah kelelakianku. Tanpa terkontrol lagi saya yg tadinya telentang bangkit duduk sehingga punggungnya berhadapan dengan tubuh depanku dan tanganku yg kiri menyingkap kaosnya lebih ke atas lagi ad interim yg kanan ke depan menjamah sang.. Tetek.
Dia sengaja mencondongkan dirinya ke arahku agar lebih mepet. Kulepas kaosnya dan dibantu dia sebagai akibatnya sekarang setengah telanjang dia. Eits! Bulu keteknya nggak dicukur. Gairahku malah semakin meledak, kubalikkan badannya agar menghadapku. Dia menunduk mungkin membuat malu atau minder lantaran umur atau ketidak cantikannya, entahlah, yang pasti beliau sudah menggunakan ahlinya melepaskan ‘nafsuku’ berdasarkan kandangnya. Kurebahkan dia dengan masih tetap gunakan BH lantaran aku  lebih suka  menjamah teteknya menggunakan cara menyelinapkan tangan.
Kuserbu keteknya yang berbulu relatif lebat itu (kering tanpa ‘burket’, kalaupun ‘burket’ toh nafsuku belum tentu turun) sembari terus meremas tetek. Kutindih dia. Celana jeans masih belum dilepas. Kususupkan tangan kananku ke dalamnya. Menyentuh veginya. Basah. Kupindahkan serangan ciumanku ke lehernya. Mendesah. Lalu mengerang-mengerang lembut beliau. Kehabisan nafas saya, saat kutarik kepalaku naik buat mengambil udara ditarik lagi kepalaku. Ah rupanya ‘G-Spot’nya terdapat di leher belakang telinga sebelah kanan. Kuhajar usang menggunakan dengusan napas hidungku di daerah itu. Semakin liar polahnya. Tangan kananku semakin dibasahi dengan poly cairan. Kulepas tanganku & kusuruh dia bangkit.
“Lepaskan BH & celana ya”.
Tanpa tunggu usang wajahnya yg telah merah merona itu mengangguk & cepat-cepat semua yg kuingin tanggal dilepasnya. Kupandangi sebentar teteknya, masih tidak mengecewakan bulat. Kupandangi veginya, wow alangkah lebatnya. Kurebahkan lagi dengan segera. Kutindih lagi beliau. Mengerang hebat. Nafasku memburu berat. Kukangkangkan pahanya. Dan bless.. Rudalku sudah menghunjam ‘vegi’nya yang telah banjir itu. Kusodok-sodok sekuat energi. Semakin keras erangannya. Kuseret pahanya ke pinggir ranjang, dengan berdiri kuangkat kakinya menumpang pada pundakku, kuarahkan pulang rudalku menuju veginya yang lenyap ditelan jembut. Kusibakkan terlebih dulu, lalu bless.. Bless.
“Argh.. Arghh.. Yang cepeth Denn Arghh.. Kencangin laggih Denn.. Auhh.. Ahh..”
Menjelang 10 mnt mulai terasa hangat adikku.
“Akkhu.. Sudahh mauu.. Kelluaar.. Bikk.. Ahh.. Ahh”.
“Akkh.. Bibikh.. Jugah.. Denn. Ahh.. Argh”.
Dan tanpa dapat dibendung lagi jebollah lahar panas menurut rudalku menyemburi lembahnya yg rimbun itu. Pada ketika yg bersamaan. Sensasi kimiawi berdasarkan nirwana sudah mengurasku menuju keletihan. Entah kenapa badanku yg sebelumnya telah letih banget ternyata masih mampu mengeluarkan tenaga sebesar ini. Ibu ini memang lihai. Luar biasa kuakui.
Setelah berbaring-baring kurang lebih 15 menit Si Ibu minta ijin ke toilet buat bersih-bersih diri. Kusiapkan amplop buat memberinya kompensasi atas jasa kenikmatan luar biasa yang baru sekali ini kurasakan seumur hidupku. Tanpa dibukanya amplop itu sembari mengucapkan terima kasih dengan sopan, dia keluar kamar sehabis mengenakan jaketnya pulang.
Sejak mengenal kenikmatan ‘pijat hotel’ itu, saya mulai seringkali mencoba-coba. Di kota B poly sekali panti-panti yang berkedok pijat tetapi sesungguhnya yang ditawarkan adalah lebih dari sekadar pijat. Awalnya kucoba yg belia-muda & anggun, akhirnya saya balik  mencari yang sudah senior karena yg masih muda kuanggap belum banyak pengalaman dan nir banyak kenikmatan yang kuraih. Di samping itu lebih aman secara kesehatan menggunakan yg tua lantaran jarang digunakan, ad interim yg belia dan manis laku  diantri banyak laki-laki  dari banyak sekali lapisan dan dengan kondisi kesehatan yg sulit terkontrol juga.
Share this article :

0 comments:

Post a Comment